7 Summits Indonesia (in progress)

Setidaknya sudah 10 gunung yang telah aku daki selama ini. Kebanyakan di Pulau Jawa, Slamet, Sumbing, Prau, Ciremai, Rinjani, Kerinci, beberapa diantaranya. Setiap pendakian membawa cerita yang cukup menarik dan satu persatu aku telah tulis pada halaman The Summits. Target terbesarku selama ini juga telah tercapai, yaitu mendaki gunung terindah, Rinjani. Sejak dulu, aku telah banyak mendengar cerita tentang Rinjani dan ingin untuk mendakinya, setidaknya sekali saja.

Setelah mendaki Rinjani, aku rasa, aku tidak memiliki hasrat yang tinggi lagi untuk mendaki. Ketika dulu di-2019 setidaknya aku bertekad untuk mendaki dua gunung dalam satu bulan, namun sekarang, cukup ketika ada ajakan saja dan hanya ingin mendaki gunung-gunung yang belum pernah kudaki. Bahkan belakangan hampir sebulan atau dua bulan sekali. Cukup sesekali untuk mengisi waktu luang, karena selebihnya harus kerja dan mempersiapkan masa depan.

Selain akan cuma sesekali naik gunung, aku pribadi juga sepertinya akan cenderung lebih memilih dalam tujuan pendakian selanjutnya. Ya mungkin tidak akan mendaki lagi gunung yang pernah didaki untuk sementara, jadi fokusnya kepada gunung-gunung eksotis yang cukup terkenal untuk didaki. Gunung-gunung tersebut seperti Sindoro, untuk menyelesaikan 3S Jawa Tengah (Slamet, Sumbing, Sindoro). Lalu ada Merbabu, Argopuro, Raung, gunung-gunung yang cukup terkenal dikalangan pendaki Merbabu dengan keindahannya, Argopuro dengan trek panjangnya, serta Raung dengan kesulitannya. Selain itu aku juga pingin menyelesaikan 7 Summits Indonesia Rinjani, Kerinci, Semeru, Latimojong, Binaiya, Bukit Raya dan terakhir Cartenz.

Apa itu 7 Summits Indonesia

Kalau untuk skala global kita mengenal 7 Summit yaitu 7 gunung tertinggi yang mewakili masing-masing kontinen atau benua. Untuk wilayah Austronesia/Australian (bagian timur Indonesia, tepatnya Papua masuk dalam kontinen ini) diwakili oleh Cartenz Pyramid/Puncak Jaya di Papua dan Kosciuszko di Australia. Gunung lainnya ada Kilimanjaro di Afrika, Everest untuk Eurasian, Aconcagua untuk Amerika bagian Selatan, Denali untuk Amerika bagian Utara dan Elbrus untuk mewakili Eropa.

Untuk Indonesia sendiri, juga telah didefinisikan 7 Summits Indonesia yang menetapkan 7 gunung tertinggi yang mewakili setiap 7 wilayah besar di Indonesia. Wilayah tersebut meliputi 5 pulau besar dan 2 Gugusan Kepulauan besar di Indoensia. Ketujuh Gunung tertinggi tersebut ialah,

  • Pulau Sumatera diwakili oleh Gunung Kerinci (3805mdpl)
  • Pulau Jawa diwakili oleh Gunung Semeru (3676mdpl)
  • Pulau Kalimantan diwakili oleh Bukit Raya (2278mdpl)
  • Pulau Papua diwakili oleh Gunung Cartenz (4884mdpl)
  • Gugusan Kepulauan Maluku diwakili oleh Gunung Binaiya (3207mdpl)
  • Pulau Sulawesi diwakili oleh Gunung Latimojong (3430mdpl)
  • Gugusan Kepulauan Sunda kecil diwakili oleh Gunung Rinjani (3726mdpl)

Hingga September 2021 ini, setidaknya ada 2 gunung yang dalam daftar 7 Summits Indonesia yang telah aku daki, yaitu Gunung Rinjani dan Gunung Kerinci. Ada sisa 5 gunung lagi untuk melengkapi penjelajahan 7 Summits Indonesia ini. Untuk mendaki 5 gunung ini, aku pribadi tidak mentargetkan harus menyelesaikannya kapan atau seberapa lama, namun setidaknya aku memperhitungkan kalau saja aku rutin sekali setahun mendaki 5 gunung sisanya, setidaknya ditahun 2026 aku telah menuntaskan 7 Summits Indonesia. Namun balik lagi, waktu itu bisa saja molor lebih lama atau bahkan lebih cepat, bergantung kondisi.

Pendakian Gunung Rinjani pada Juni 2021

Puncak Gunung Rinjani, pendakian pada Juni 2021

Perkiraanku yang paling realistis ialah aku dapat menyelesaikan 3 gunung diantara 5 gunung sisa tersebut dalam waktu dekat. Ketiga gunung tersebut iala Semeru, Binaiya, Latimojong. Secara pribadi, pertimbangan fisik dan danalah yang menjadikan ketiga gunung ini dapat didaki dalam waktu dekat.

Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung Api yang masih aktif membuat puncak Mahameru (nama tertinggi gunung Semeru) berpasir dan berbatu. Jalur pendakiannya juga cukup panjang, memakan waktu 3-4 hari. Hasil risetku dari internet untuk pendakian gunung Semeru ini, kemungkinan gunung ini akan sama karakterisik pendakiannya dengan Gunung Rinjani dan Gunung Kerinci. Jadi aku cukup yakin secara fisik. Untuk pertimbangan dana, budgetnya masih masuklah (setidaknya untuk 7 summits Indonesia ini aku membudgetkan sekitar Rp. 3.000.000 sebagai batas atas untuk satu kali pendakian ke Gunungs). Akses ke basecamp pendakian Semeru, cukup terjangkau dari Jakarta, tempatku tinggal sekarang.

Latimojong, gunung tertinggi di Pulau Sulawesi. Tipikal pegunungan dengan puncak tertinggi yaitu Puncak Rante Mario. Medan pendakiannya tergolong dalam hutan pegunungan atau Hutan Montana, formasi hutan tropika basah yang terbentuk dipegunungan ini menyajikan medan dengan hutan tinggi yang diselimuti awan. Disepanjang perjalanan tanah dan tumbuhannya juga akan dipenuhi dengan lumut. Walau sebenarnya gunung dengan karakteristik seperti ini belum pernah aku daki sebelumnya namun dari cerita orang-orang dan hasil riset di internet mengenai pendakain gunung Latimojong, aku cukup yakin dapat mencapai puncaknya. Walau terletak di Sulawesi dan setidaknya membutuhkan pesawat atau transportasi laut untuk dapat sampai ke kaki gunung Latimojong, namun perkiraanku budget yang dibutuhkan masih dibawah batas yang telah kutetapkan untuk gunung diluar pulau Jawa (pendakian di Pulau Jawa masih tergolong murah karena transportasi yang gampang, setidaknya aku membuat budget Rp. 500.000 bila mendaki gunung di Pulau Jawa).

Selanjutnya, Gunung Binaiya yang mewakili Gugus kepulauan Maluku ini terletak di Pulau Seram, Provinsi Maluku. Gunung Non-vulkanik dengan tipe pegunungan karst ini akan sangat menantang untuk didaki. Berdasarkan penjelahana di Internet dan cerita teman-teman yang sudah pernah kesana pendakian gunung Binaiya memilik medan yang cukup unik. Jalur pendakian dari sisi Selatan, Jalur Piliana akan dimulai dari 0 mdpl terus hingga mencapai puncak pada ketinggian 3207mdpl. Jalur lainnya, yaitu Jalur Kanike akan dimulai dari 187mdpl. Karena dimulai dari titik yang cukup rendah medan yang akan ditemui akan bervariasi mulai dari Hutan Pantai, Rawa, Hutan Hujan Tropis, hutan hujan pegunungan hingga sub alpin. Pendakiannya sendiri akan menyeberangi beberapa sungai dan cukup menanjak. Walau transportasi untuk mendaki gunung Binaiya ini agak sedikit mahal dan berdasarkan perhitunganku pribadi budgetnya akan diatas dari budget yang telah kutetapkan, namun kurasa ini akan sangat menarik.

Sisa dua gunung lagi untuk melengkapi pendakian 7 Summits Indonesia ini. Bukit Raya yang mewakili Pulau Kalimantan dan Puncak Cartenz yang mewakili Papua. Hitung-hitungan aku pribadi, budget pendakian gunung ini sudah tidak masuk kedalam budget pribadiku. Misalnya untuk Bukit Raya, aku mungkin harus mempersiapkan Rp. 7.000.000 atau lebih. Harus mengurangi jajan dan memperbanyak menabung. Lalu untuk Puncak Cartenz, setidaknya aku harus mempersiapkan dana lebih dari Rp. 40.000.000 (ini hitungan ditahun 2019). Apa yang membuat pendakian kekedua gunung ini mahal? Akses dan kepopuleran. Bukit Raya terletak dipelosok Kalimantan, untuk sampai ke titik awal pendakian, kita harus menuju ke Pontianak terlebih dahulu, kemudian perjalanan dilanjutkan ke Desa Rantau Malam yang akan ditempuh melalui jalur darat dan jalur sungai dengan menaiki speadboat. Begitu juga dengan Cartenz Pyramid, perjanalan ke titik awal pendakian dapat ditempuh dengan dua cara, melalui Freeport atau dengan helikopter. Dalam hal kepopuleran, kedua Bukit Raya bukan merupakan gunung yang menjadi favorit para pendaki, sehingga jalurnya agak sedikit samar (biasanya karena sering dilalui, jalan setapak yang membelah hutan akan cukup terlihat jelas). Keadaan jalur yang seperti itu membuat pendakian gunung ini harus dipandu oleh guide lokal. Begitu juga dengan Cartenz Pyramid, gunung dengan ketinggian lebih daru 4000mdpl dengan tipikal es dan bebatuan curam dipuncaknya membutuhkan guide dan orang yang berpengalaman yang akan membantu kita selama perjalanan.

Jadilah kedua gunung ini, Bukit Raya dan Cartenz Pyramid akan aku simpan dalam rencana pendakian dan akan didaki ketika mempunyaoi budget yang cukup? Kapan? Yah belum tau pasti, mungkin saatnya akan tiba untuk mendaki gunung ini ketika aku tidak lagi pada kondisi untuk berpikir keras dalam memilih penginapan setelah naik gunung sebelum kembali ke Jakarta atau saat tidak khawatir untuk membeli tiket baru ketika penerbangan batal karena waktu pendakian yang molor.

Cerita dari perjalanan 7 Summits Indonesia

Setidaknya hingga September 2021, ada dua gunung dalam daftar 7 Summits Indonesia yang telah didaki. Cerita mengenai pendakian tersebut dapat dilihat pada link dibawah ini,

Gunung Rinjani (Juni 2021)

Gunung Rinjani menjadi gunung pertama yang kudaki. Gunung terindah yang pernah kudatangi. Aku menyimpan keinginan untuk mendaki gunung ini sejak dari kuliah dan baru terwujud Juni 2021 yang lalu. Aku memulai perjalanan dari Bali, karena saat itu sedang berada di Bali beberapa minggu. Menyebrang dari pelabuhan Padang Bay di Bali ke pelabuhan Lembar di Lombok. Kemudian langsung lanjut perjalanan darat 3 jam ke Desa Sembalun. Awalnya pendakian ini akan dilakukan bersama beberapa teman dari Jakarta dan Bandung, namun karena waktu kita tidak cocok dan saat itu juga tidak mendapatkan tiket pendakian, akhirnya aku melakukan pendakiannya bersama open trip. Jalur pendakian yang kupilih ialah dari Sembalun turun melalui Torean, pendakiannya memakan waktu 4 hari dan 3 malam. Memang benar-benar indah gunung Rinjani ini, mungkin suatu saat nanti aku ingin kesini lagi, lewat jalur yang berbeda tentunya.

Gunung Kerinci (Agustus)

Pendakian Gunung Kerinci ini menyimpan banyak cerita bagiku pribadi. Diawali dengan berulang kali batalnya rencana pendakian yang sudah direncanakan sejak Februari 2021, perjalanan darat yang melelahkan hingga pendakian yang sangat susah karena hujan terus. Bersama Wahyu teman yang aku kenal ketika mendaki Sumbing diawal tahun, kita merencanakan pendakian ini. Wahyu mengajak satu lagi temannya Pendo untuk ikut pendakian kali ini. Kita berangkat dari Palembang, karena mereka berdua tinggal di Palembang, dengan mobil kita menempuh perjalanan 26 jam ke Desa Kersik Tuo, basecamp awal pendakian. Sebenarnya akses ke Kersik Tuo akan lebih dekat dari Padang. Begitu memulai pendakian, kita telah diperingatkan kepada petugas untuk berhati-hati, tidak terlalu memaksakan serta membawa bekal berlebih. Sehari sebelumnya terjadi badai besar di Gunung Kerinci yang membuat beberapa kelompok pendaki tidak sampai kepuncak dan harus menambah waktu pendakian. Pendakian ini memakan waktu 2 hari 1 malam, sebenarnya cukup cepat karena normalnya ditempuh 3 hari 2 malam. Tidak banyak orang yang mendaki saat itu dan beruntungnya kami dapat sampai ke puncak. Namun ketika turun, hujan tidak berhenti hingga kami sampai ke Basecamp Kersik Tuo kembali. Banjir lumpur hingga sebetis membuat sepatu dan tas kami sangat kotor. Kami beruntung dapat sampai dengan selamat. Ini juga menjadi pengalaman pertama Pendo dalam mendaki gunung.

Gunung Semeru

Gunung Latimojong

Gunung Binaiya

Bukit Raya

Cartenz Pyramid