rhps.

Rio Harapan Pangihutan

| Rio Harapan Ps. | 27 Jun 2017 | 6 mins read

Roman Bumi Manusia


“Cerita, …., selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia…. jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.”
~ Pramoedya Ananta Toer

Cerita ini mengambil latar dari akhir abad ke 18, sekitar tahun 1890-an, menjelang abad ke 19 di Wonokromo dan sekitaran Surabaya. Cerita tentang seorang pemuda keturunan raja-raja jawa yang dipanggil dengan nama Minke, mendapatlan pendidikan zaman Modern dari pemerintahan Hindia Belanda di H.B.S (Hogere Burgerschool,pendidikan menengah di Surabaya), Minke menjadi salah satu dari sedikit pribumi yang dapat bersekolah di H.B.S hanya karena dia anak bangsawan Eropa.

Minke yang telah banyak mengalami dan melihat sendiri kemajuan ilmu pengetahuan dari sekolahnya, menolak cara-cara lama yang mengharuskannya untuk bertindak sesuai adat-istiadat yang mengekang, tunduk dan hormat-hormatan pada hierarki yang berdasarkan oleh keturunan semisal dalam memperlakukan anak perempuan yang tidak boleh bergaul dan harus tinggal di dapur juga dalam satu bagian digambarkan hubungan Minke dan Ayahnya yang seorang Bupati di kota B sebagai dalam dialog berikut, “Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak ditempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu…. Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.” Pengalaman-pengalaman disekolahnya yang membuatnya tumbuh menjadi pemuda yang merindukan kebebasan dan kemajuan zaman modern. Menjadi orang yang tidak ingin terkekang oleh kebudayaan zamannya, pribumi yang mengagung-agungkan Kebudayaan terhormat Eropa.

Cover Buku Pertama dari Tetralogi Pulau Buru yang berjudul Bumi Manusia
Cover Buku Pertama dari Tetralogi Pulau Buru yang berjudul Bumi Manusia

Kisah ini menjadi lebih menarik ketika si Minke ini diajak teman sekelasnya, Robert Suurhof untuk berkunjung kesebuah rumah yang juga perkebunan, peternakan dan perusahaan di Wonokromo milik dari seorang mantan Tuan Besar Kuasa (Pejabat tertinggi Perkebunan Belanda) yang bernama Hermann Mellema. Namun tanah dan perkebunan ini telah diurus oleh gundiknya Nyai Ontosoroh dan anak perempuannya yang cantik jelita yang menjadi primadona masyarakat sekitar yaitu Annelies. Kunjungan yang awalnya direncanakan Robert untuk menarik perhatian dari Annelies dengan membawa Minke yang pribumi sebagai temannya yang tidak lebih baik darinya. Pikir Robert agar dirinya terlihat luar biasa jika dibandingkan tampilan Minke. Namun ternyata diluar dugaannya justru Minke menjadi lebih dekat dengan Annelies.


Kedekatan Minke dan Annelies yang merupakan titik awal dari pergulatan dalam cerita ini. Titik awal yang membawa Minke memasuki konflik-konflik yang berkepanjangan terhadap perjuangan dari Nyai Ontosoroh untuk memdapatkan hak-haknya sebagai manusia modern nan bebas. Hak-hak untuk berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa Eropa berkulit putih terutama Belanda, tidak menjadi warga kelas dua dengan status pribuminya. Minke, Nyai Ontosoroh dan Annelies berjuang bersama-sama menghadapi pengadilan putih Hindia Belanda yang meminta hak terhadap warisan dan seluruh harta dari Hermann Mellema untuk diberikan kepada anaknya yang sah Maurits Mellema setelah kematiannya yang tragis di rumah pelacuran Babah Ah Tjong, tempat yang menjadi mengeramnya Tuan Mellema selama 5 tahun belakangan setelah mengetahui dan mengakui kebersalahannya terhadap istri sah-nya yang ditinggalkannya di Belanda. Pengadilan ini berjalan sangat panjang dan menggemparkan seluruh Surabaya, karena inilah merupakan perkara pertama yang mempertemukan pribumi menghadapi pengadilan putih Belanda. Semua mata tertuju pada pokok persoalan pengadilan ini, membukakan mata khalayak ramai mengenai peradaban yang maju yang selama ini diagung-agungkan ternyata memberangus hidup dan kebahagiaan manusia. Menempatkan suatu bangsa manusia lebih rendah kedudukannya dibandingnkan bangsa lainnya.

Semua yang dilalui Minke menempah dirinya. Perjuangan melawan ketidak-adilan dan kesema-menaan menjadi pelajaran yang berharga baginya lebih dari pada apa yang didapatkannya dari sekolah. Bahkan Tuan Direktur sempat memecatnya dari sekolah setelah menimbang-nimbang didalam sidang Dewan Guru budi-pekertinya yang mungkin akan memberi pengaruh buruk kepada siswa lainnya. Namun semua berbalik, setelah dukungan yang didapat Minke dari banyak pihak yang tergerak hari nuraninya, salah satunya Tuan Assisten Residen, Herbert de la Croix yang khusus mengirimkan surat kepada Direktur Sekolahnya untuk mempertimbangkan keputusan tersebut. Semuanya orang tergerak hatinya melihat perjuangan Minke di pengadilan putih Belanda yang dilaluinya bersama Nyai Ontosoroh dan kemudian membantu, sehingga Minke dapat melanjutkan pendidikan dan lulus sebagai lulusan terbaik se-H.B.S Surabaya.

Minke juga banyak belajar dari orang-orang disekitarnya. Nyai Ontosoroh yang merupakan ibu mertuanya, orang yang dipanggilnya Mama, telah menjadi Guru kehidupan baginya yang mengajarkannya banyak hal dan membukakan kepada Minke dunia yang baru, pandangan baru terhadap kehidupan. Begitu juga dengan sahabat-sahabat setianya Minke seperti Jean-Marais seorang Perancis, mantan tentara bayaran yang tinggal di Hindia Belanda yang selalu mengingatkan dan menasihatinya. Dalam satu waktu ketika Minke dalam kegundahan, dia menemui Jean dan berdiskusi dengannya, Jean-Marais berkata, “Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan? Kau terpelajar, Minke, Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu. “. Sahabat lainnya yang selalu mendukung, menyemangati dan menjadi lawan diskusi dan beradu pemikiran yaitu Sarah dan Miriam de la Croix anak dari Tuan Herbert de la Croix

Pada akhirnya cerita ini ditutup dengan keberangkatan Annelies yang telah tidak berdaya baik dalam fisik maupun jiwanya ke Nederland, Eropa, ke tanah air dari ayahnya. Keberangkatan ini merupakan hasil dari keputusan pengadilan yang mengharuskan pengalihan hak asuhnya kepada satu-satunya keluarga yang dianggap sah secara hukum, istri sah dari Tuan Mellema, ibu dari Maurits Mellema, Meuvrow Amelia Mellema-Hammers. Kehadiran Nyai Ontosoroh sebagai Ibu kandung Annelies tidak dianggap secara hukum, karena dia hanya gundik yang belum tertebus oleh Tuan Mellema. Selain itu pernikahan Minke dan Annelies tidak diakui secara hukum, harta benda dan perusahaan hasil kerja keras Nyai Ontosoroh juga harus dialihkan kepada Maurits Mellema dan Meuvrow Amelia. Perihal yang terakhir ini sebenarnya perkara yang ingin dimenangkan oleh Maurits Mellema dan Meuvrow Amelia, namun dampak keinginan mereka atas kekuasan penuh terhadap kekayaan tuan Mellema yaitu harus menyingkirkan anak lainnya dari Tuan Mellema. Ya Nyai Ontosoroh dan Annelies kalah dalam pengadilan. Kekalahan ini juga menjadi kekalahan Minke yang telah masuk dalam kehidupan mereka.

Aku sudah tak tahu sesuatu. Tiba-tiba kudengar suara tangisku sendiri, Bunda, putramu kalah. Putramu tersayang tidak lari, Bunda, bukan kriminil, biarpun tak mampu membela isteri sendiri, menantumu. Sebegini lemah Pribumi dihadapan Eropa? Eropa! Kau, guruku begini macam perbuatanmu? Sampai-sampai istriku yang tak tahu banyak tentangmu kini kehilangan kepercayaan pada dunianya yang kecil - dunia tanpa keamanan dan jaminan bagi dirinya seorang. Hanya seorang.

“Kita kalah, Ma” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Roman Bumi Manusia yang menjadi Bagian pertama dari Seri Tetralogi Buru yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer menjadi bagian awal dari cerita periode penyemaian dan kegelisahan dalam masa membibitnya pergerakan nasional mula-mula. Bumi Manusia juga akan menjadi peletak dasar dari kisah-kisah lanjutan pada buku-buku lainnya dalam Tetralogi Pulau Buru ini. Membaca Tetralogi Buru ini mengingatkan kita pada zaman pergerakan nasional mula-mula yang nantinya melahirkan Indonesia Modern. Pramoedya Ananta Toer telah berhasil membawakan sebentuk sejarah Pergerakan Nasional kepada kita sehingga kita dapat mengingatnya bahkan turut merasainya dalam pertarugan dan pergulatan Minke dalam cerita ini yang utuh ini dibuku-buku selanjutnya.

Rio Harapan P.s

Bandung, 2 Juli 2017



rss facebook twitter github youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora